Hidup Adalah Pilihan

Menentukan diantara beberapa pilihan yang baik adalah sulit. Tanggal 4 dan 5 Mei 2013 ada pelantikan pengurus Komunitas SuksesMulia (KSM) se-Indonesia. Saya sangat ingin datang ke acara ini. Di sisi lain, tanggal 5 Mei 2013 FLP Bekasi mengadakan Open House dan Workshop Menulis Komedi bersama Bang Baim Lebon. Pasti tau dong siapa doi? Yap, penulis novel yang diangkat ke layar kaca, LUPUS. Yang seangkatan dengan saya pasti hafal banget filmnya. (Beuuh! Berasa nenek-nenek jadinya... :D) Lalu, keponakan saya akan UN tanggal 6-8 Mei 2013. Galau lah saya... Pasalnya, kalau saya ikut acara KSM dua hari full day, yang berarti saya tidak bisa menemani keponakan saya belajar. Biasanya kami belajar agak banyak di weekend dan saya juga tidak bisa hadir di Open House FLP Bekasi. Open House diadakan setahun sekali sebagai penjaringan calon pramuda. 


***

Seringkali kita dihadapkan dalam situasi di atas, menentukan pilihan. Ya, sejatinya hidup adalah pilihan. Beranjak dari satu pilihan ke pilihan lain. Bahkan tidak memilih pun bagian dari pilihan itu sendiri, memilih untuk tidak memilih. Hehe, bingung yak?! 

Dengan berat hati, saya memilih hadir di acara KSM, National Inauguration 2013. Tapi saya tidak mengabaikan yang lainnya. Saya membantu share acara Open House FLP Bekasi dan sedikit saran-saran. Saya mengambil cuti dua hari untuk keponakan saya, tanggal 3 dan 6 Mei. Tanggal 3 untuk review sedikit Bahasa Indonesia dan Matematika, tanggal 6 total untuk Matematika. Hanya Matematika yang ia harus butuh latihan lebih banyak. Dua pelajaran lainnya yang di UN-kan, ia sudah mendapat nilai yang baik. 

Kenapa saya memilih KSM? Karena saya adalah pengurus KSM Bekasi dan ini baru terbentuk awal April 2013. Masih unyu-unyu. Masih harus saling menguatkan dan menentukan arah, strategi, dan lain-lain. Karena misi komunitas ini berat, sangat berat. Membentuk peradaban SuksesMulia. Selama dua hari ini kami belajar organisasi dan pengembangan diri langsung dari 3 orang founder KSM, yaitu Kek Jamil Azzaini, Mas Indrawan Nugroho, Pak Farid Poniman. Apakah saya sudah mencapai SuksesMulia? Belum, saya masih bergerak ke arah SuksesMulia itu. Jika menunggu saya sudah SuksesMulia, kapan kah itu? Dan bukankah hidup harus tumbuh dan terus bertumbuh? Capailah kesuksesan kita setinggi-tingginya untuk menebar kebermanfaatan seluas-luasnya. 

Kembali ke pilihan. Untuk menentukan pilihan, buatlah list alasan mengapa kita harus memilih itu. Semakin banyak dan kuat alasan memilihnya semakin baik. Seberapa penting pengaruh dari pilihan tersebut dalam hidup kita. Jika ini sebuah acara, apa pengaruh atas ketidakhadiran kita. Sangat baik jika kita mampu istikharah atas setiap pilihan, khususnya pilihan besar. (Saya masih belajar untuk yang satu ini)

Setiap pilihan mengandung resiko. Bersiaplah dengan resiko yang mungkin hadir. Bertanggung jawablah atas apa yang menjadi pilihan kita tersebut. Selamat menentukan pilihan, sahabat! ^___^


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pemimpin

Entah apa alasan ketua memasukkan saya sebagai pengurus. Saya mendapat amanah di bagian kaderisasi. Saya sudah bilang bahwa kemampuan saya masih jauh dibanding dengan teman-teman. Tapi ya sudah, jika memang begitu keputusannya, saya akan berusaha seoptimal mungkin.

Beruntung saya mendapat partner yang klop dan mudah diajak kerja sama. Saya bersama Tia ditugaskan membuat kelas peminatan sesuai petunjuknya. Tidak sulit memang, apalagi mentornya sudah jelas. Ketika kelas sudah berjalan baik, saya dan Tia hanya memantau. Sebagai bagian dari tugas ini, kami harus membuat grup online di facebook. Jujur saja, kesibukan masing-masing anggota dan mentor tidak memungkinkan kelas selalu offline alias tatap muka. Mungkin hanya beberapa kali dalam sebulan atau sesuai kesepakatan bersama.


Kelas yang dibuat antara lain; novel, cerpen, skenario, artikel, jurnalistik, travel writing & photography, non fiksi. Karena request beberapa teman agar dibuka juga kelas penerjemah, saya dan Tia membuka kelas tersebut. Kami sempat bercerita tentang hal ini kepada ketua, namun low respon. Masih dipertimbangkan katanya. Maksudnya baik, ia tak ingin kelas yang dibuka mampet di tengah jalan. Ya, kami berdua membuka kelas tanpa persetujuan ketua.


Selang beberapa hari kemudian, saya mendapat teguran. Teguran yang diberikan secara pribadi, karena Haden sebagai ketua, juga tidak ingin mentor dan teman-teman di kelas penerjemah tersinggung. Ia hanya bilang, "Lain kali apapun harus ijin dengan pemimpin (ketua maksudnya). Itulah adabnya. Karena semua ada pertimbangannya dan ada pertanggungjawabannya."


Bukan maksud hati mengabaikan posisi ketua, hanya terlalu excited dan ingin menyediakan "tempat" sesuai kebutuhan teman-teman.


Saya pun meminta maaf dan mengakui kesalahan saya.



---

Pikiran saya pun menerawang. Membayangkan saat saya menikah. Mungkin karena saya terbiasa mandiri dan memutuskan apa-apa sendiri. Setelah menikah, ada pemimpin yang harus saya hormati. Apapun yang saya lakukan tidak bisa seenaknya sendiri, harus atas persetujuannya. Karena saya adalah tanggung jawabnya. Dialah suami saya kelak.

Begitulah adab sebuah organisasi. Keluarga boleh dong disebut sebagai organisasi, kan sekelompok orang dengan tujuan yang sama (in sya Allah). Setiap orang melakukan yang terbaik sesuai kewajibannya. Dan yang terpenting, persetujuan pemimpin. Pemimpin dalam keluarga saya nanti adalah suami saya, sekaligus ayah dari anak-anak saya. Saya harus belajar mengerem kemandirian saya dan menerima dan melaksanakan keputusan suami saya kelak meski mungkin saja berbeda dengan keinginan saya. Semoga saya dapat menjadi istri dan ibu yang shalihah. Aamiin... 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kekuatan Doa Ibu


Seorang anak sedang asyik bermain tanah. Sedangkan ibunya sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah.
Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.
Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah dan berkata,”Pergi kamu! Jadilah kamu imam di Haramain!”
Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram! Tahukah kalian, siapa anak kecil yang di do’akan ibunya saat marah itu?
Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.
Ini adalah teladan bagi para ibu, calon ibu, ataupun orang tua hendaklah selalu mendo’akan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu do’a yang tak terhalang adalah do’a orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan.
“Janganlah kalian mendo’akan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendo’akan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana ALLAH mengabulkan do’a kalian.” (HR.Abu Dawud)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tidak Ada Sesuatu yang Kebetulan


Sejak mendapat BM dari Pak Ali tentang tugas kliping dari majalah UMMI, saya hampir pasrah untuk tidak mengerjakan. Toh saya juga tidak dapat hadir di kopdar pertama Women Optimizer. 

Beberapa hari sejak BM itu, seorang teman WO menanyakan apakah saya mau majalah UMMI juga? Ia akan membeli dua jika saya mau. Spontan saja saya mengiyakan, padahal saya tidak tahu bagaimana caranya bertemu dan menyerahkan tugas tersebut kepada Pak Ali. Selasa pagi, 9 April 2013, saya membaca di TL @pakarseo bahwa beliau akan mengisi sharing bisnis dengan tema @ClickDulu @BaruBrick di RUMU Tebet Rabu malam. 


Segera saja saya ajak Miraa, teman WO saya tersebut, untuk mengikuti acara tersebut. Gayung pun bersambut, Miraa setuju untuk hadir. Namun saya sama sekali belum terlintas untuk "memamerkan" tugas kliping saya kepada Pak Ali di sana. Saya "hanya" ingin belajar @ClickDulu @BaruBrick.



Selasa malam, saya BBM dengan Miraa dan deal untuk mengerjakan tugas kliping di masjid depan RUMU sebelum acara. Keesokan harinya, ba'da maghrib kami menghias frame dengan alakadarnya. Menempelkan hikmah bersama potongan artikel sosok. Dan taraaaa, jadilah seperti di foto ini. Aslinya foto ini sih berwarna, tapi ah saya malu tampak kucel banget kalau fotonya berwarna. Maklum semuanya masih orisinil dari pagi. Hihihi...
Kami pun terpaksa duduk di luar karena ruangannya tidak cukup. Antusias sekali yang ingin berguru kepada guru kita ini. Ya, itulah...tidak ada sesuatu yang kebetulan dalam hidup kita. Meskipun nampak sebagai sebuah kebetulan, sungguh bukan kebetulan. Allah-lah yang mengarahkan "kebetulan-kebetulan" itu. Mengapa teman saya menawarkan majalah UMMI? Mengapa Pak Ali yang mengisi sharing bisnis di RUMU, bukan yang lainnya? Mengapa Rabu itu dan bukan Rabu lainnya? Kalau Rabu lainnya tentulah kliping ini terasa basi. Lalu, apakah semua ini kebetulan? Terserah anda bagaimana melihatnya. ;)
MS Sharing Bisnis @RUMU Tebet, 10 April 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ayam Ayame

Isak tangis Sella masih terdengar di sudut kamar. Ia nampak sedih sekali dan matanya pun bengkak. Dari pagi hingga malam hari tangisnya timbul tenggelam. Hayooo coba tebak, apakah yang membuatnya sedemikian sedihnya? Dimarahin ibunya? Bukan tuh. Kehilangan mainan? Hhm, hampir tepat. Mau tahu ceritanya? Apa mau tahu banget? Hehe. Yuk yuk, sila baca cerita saya berikut ini....


AYAM AYAME?! Mendengar kata ini membuat saya menyerngitkan dahi. Ini nama apa ya? Katanya sih Sella menangis karena ayam ayame. Setelah bertanya sana sini, akhirnya saya menemukan jawaban (si)apa ayam ayame ini. *pakai gaya detektif*

Ayam ayame adalah dua ekor ayam negeri yang dipelihara oleh mbak ipar saya dua sampai tiga bulan ini. Ayam ayame dirawat sejak masih piyik. Kenapa diberi nama ayam ayame ya? Hhm, mungkin untuk memudahkan memanggil dua ekor sekaligus. Ayam ayame….

Pagi itu, mbak ipar saya (ibu dari Vina, Sella, dan Karlo) membawa ayam ayame ke pasar. Ia hendak menumpang menyembelih, membersihkan, dan memotong ayam ayame di pemotongan ayam. Iya, bosan membersihkan kotoran ayam ayame jadi ya memilih untuk memotongnya. Yang protes adalah ketiga keponakan saya. Karlo sempat berteriak dan menangis saat ayam ayame akan dibawa ke pasar. Sella dan Vina juga menangis. Anehnya, Sella tetap ikut ke pasar “menemani” detik-detik terakhir ayam ayame. Hhm…

Oh ya, ada keunikan dari ayam ayame. Meski notabene-nya ayam negeri, tapi ayam ayame sangat selektif memilih makanan. Ciyeee…gaya amat yak! Contohnya nih, ayam ayame tidak mau makan nasi basi, nasi sisa atau sejenisnya. Ia hanya mau makan nasi hangat dari magic jar. *tepok jidat* 

Malam itu, Sella dan Vina kembali menangis. Ditengah tangis mereka, saya selipkan pertanyaan. “Kamu makan gak ayam ayame-nya?”

Sella: “Iya tadi…”
Vina: “Makanlah. Kalo gak nanti aku gak kebagian…”

Hahaha, lucu banget ni bocah yak! Tadinya sih saya pengen mencoba sedikit berempati, tapi gak kuat buat menahan tertawa mendengar jawaban mereka. Sayang dan sedih, eh tapi dimakan juga ayam ayame-nya.

Mereka menangis lebih dari 30 menit. Kemudian reda. Ibu mereka berdalih, “Ayam kan memang dipelihara untuk dipotong, bukan seperti kucing atau kelinci.” 

Iya ya, benar juga sih…

Sella mengambil ponsel kakaknya, Vina. Masih dengan sedikit isakan tersisa. Ia nampak serius. Ternyata ia menuliskan sebuah sms, yang isinya:

Ayam ayame maafin ibu ya ayam ayame….

Ibunya membaca dan melihat sms itu. Ia pun mencandai putrinya tersebut. “Jadi, mau dikirim ke mana nih sms? Penggorengan?” :D

“Ih, ibu mah jahat ih…”, jawab Sella seraya memajukan bibirnya beberapa senti. 

Kenangan tentang ayam ayame kembali muncul dalam benak Sella dan Vina. Ayam ayame yang suka masuk ke rumah, dipaksa bermain bersama Karlo, hingga meninggalkan jejak kotoran di sembarang tempat.

Kalau ingat tentang ayam ayame mereka menangis, saat lupa mereka makan daging ayam ayame. Huft! 

Ya, itulah ayam ayame disertai tingkah polah keponakan saya bersamanya. Tingkah polah anak-anak yang spontan dan alami yang lucu dan mengundang tawa. 

Selamat jalan ya ayam ayame… Salam manis dari Vina, Sella, dan Karlo :*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rantai Gajah


Kita semua pasti tahu gajah liar. Tapi tahukah kita dalam kondisi liar gajah mampu berjalan lebih dari 40 km per hari? Ia juga mampu mencari makanan dalam jumlah yang berlimpah. Memiliki kekuatan merobohkan pohon, merusak satu kampong dan memiliki kekuatan lain.

Lalu, bisakah kita menjinakkan gajah liar? Jika bisa, bagaimana caranya?



Bisa. Gajah liar bisa dijinakkan. Caranya, tembaklah gajah itu dengan  oabat bius. Saat sedang pingsan, ikatlah kaki gajah dengan rantai besi yang kuat dan rantai tersebut diikatkan ke pohon yang kuat. Saat terbangun, makhluk berbadan besar ini meronta-ronta dan ingin melepaskan diri untuk mencari makanan. Tapi apa daya, rantai besi terlalu kuat untuk dilepaskan dan akhirnya si gajah kelelahan dan terdiam. Kakinya kesakitan. Gajah menyerah.

Pada saat gajah sudah  menyerah, si pawang gajah menghampiri. Ia memberi seember besar rumput segar untuk si gajah. Kira-kira, apa yang dilakukan si gajah? Tanpa kompromi, dia segera melahap rumput tersebut tanpa sisa.

Keesokan harinya, saat merasa lapar gajah kembali meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri. Lagi-lagi si gajah gagal dan menyerah. Si pawang gajah membawakan seember rumput. Dengan lahapnya si gajah menghabiskan rumput tersebut. Hal ini pun terjadi berulang-ulang selama berbulan-bulan dimana akhirnya sang gajah terbiasa makan rumput yang diberikan oleh pawang.

Suatu ketika, setelah beberapa bulan berlalu, rantai tersebut secara diam-diam dilepaskan oleh pawang saat gajah sedang terlelap tidur. Rantai tersebut diganti dengan seutas tali tipis yang diikatkan ke sebatang kayu yang kecil. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh gajah itu saat terbangun dari tidurnya? Apakah dia akan kabur dan menghirup kebebasan? Tidak! Ternyata gajah itu tidak bereaksi apapun dan tidak berusaha untuk melepaskan diri. Gajah itu tetap menunggu rumput yang biasa dibawakan oleh pawang.

Sahabat, fenomena di atas memperlihatkan kepada kita bahwa rantai besi yang awalnya terikat pada kaki gajah tersebut bukanlah hilang, tapi tetaplah ada dalam pikiran si gajah. Persepsi masih adanya rantai gajah melekat kuat dalam pikiran gajah sehingga rasa sakit karena berusaha melepaskan diri dari rantai gajah membuat gajah mudah menyerah dan enggan berusaha untuk membebaskan diri, walaupun saat ini ia memiliki kesempatan untuk bebas karena rantainya sudah diganti. Dia "kehilangan" kemampuannya berjalan lebih dari 40 km per hari dan kemampuan lainnya. 


Ternyata fenomena rantai gajah ini, berlaku juga bagi manusia. Banyak sekali orang yang memiliki rantai gajah dalam pikirannya dan terpenjara oleh persepsi yang dimunculkannya sendiri yang belum tentu kebenarannya. Orang yang masih memiliki rantai gajah dalam pikirannya adalah orang yang menunda atau membatalkan tindakannya sendiri karena persepsi negatif tentang dirinya yang dianggapnya benar. Contohnya, "Saya sudah tua", "Saya kan orang miskin", "Saya bodoh" dan persepsi negatif lainnya.

Sahabat, seringkali ketakutan yang ada dipikiran kita justru tidak pernah terjadi. Banyak sekali orang di dunia ini gagal dalam mendapatkan kesuksesannya karena rantai gajah yang bersemayam dalam pikirannya. Semoga kita semua mampu membuang rantai gajah kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selamat Ya Umur Kamu 29 Tahun

Saya ingin berbagi cerita yang membuat saya senyum-senyum sendiri. Eits, jangan mikir aneh-aneh loh ya! Saya masih sehat lahir batin, alhamdulillaah...cuma ada cerita lucu nih.

Begini ceritanya....

Saya mempunyai seorang teman, namanya Icha. Tanggal 28 Februari kemarin, Icha ulang tahun. Icha menjadi guru pendamping Yoga, anak autis yang bersekolah di sekolah umum. Sekarang Yoga duduk di kelas 12. Salah satu syarat anak autis dapat bersekolah di sekolah umum adalah dengan memiliki guru pendamping.

Salah satu keistimewaan anak autis adalah dalam hal berbahasa. Biasanya, anak autis (ketika sudah pandai berkomunikasi) akan berbicara dengan bahasa yang baku. Coba tebak apa yang Yoga ucapkan saat Icha ulang tahun? Hehehe, sumpah bikin sakit perut deh! Ucapan selamat "tabu" ulang tahun.

"Ibu Icha, selamat ulang tahun yaaa.... Selamat ya, sekarang umur kamu 29 tahun. Tahun 2014, umur kamu 30 tahun."

Hadoooh...gak tau deh gimana ekspresinya Icha. Kayak kepiting rebus kali yak, merah matang. Dan Yoga mengucapkannya saat di kelas. Wew... :D :D :D

Konon katanya sih, ada dua pertanyaan yang "tabu" diajukan kepada perempuan. Pertama, berapa usianya? Kedua, berapa berat (badan) nya? Apalagi secara to the point, ada orang yang "mendeklarasikan" hal "tabu" tersebut di tempat umum itu bikin malu banget. Bagaimana menurutmu? *perempuan only* Tabu tidak?


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS